Don't tell who you really are 🙅🙅‍♀️

   Di sebuah kota yang dipenuhi oleh cahaya serta bisikan rahasia yang mulai bergema di lorong-lorong yang gelap, terdapat seorang pemuda bernama "Aru". Aru adalah seorang musisi berbakat, seorang pencipta melodi yang mampu memikat jiwa serta  menggetarkan hati. Musiknya, yang dipublikasikan secara anonim di platform musik digital, dikenal karena liriknya yang puitis dan melodi yang menghanyutkan.
  Dia merupakan sosok misterius yang tersembunyi di balik nama samaran "Evos". Beberapa penggemar berbisik bahwa dia adalah seorang remaja yang penuh mimpi, yang lain mengira dia seorang pria dewasa yang mengalami luka emosional.
   Suatu ketika, seorang produser musik ternama bernama Lexa, merasa terpesona oleh karya musik Evos. Ia menjadi sangat ingin tahu untuk mengungkap identitas penciptanya, dengan tujuan memahami jiwa yang terdapat di balik melodi yang begitu memikat. Ia meluangkan waktu untuk mencari petunjuk dalam setiap lirik dan nada yang tersembunyi. Lexa menemukan pesan tersembunyi, yang tersembunyi di salah satu lagu Evos. Pesan tersebut berisi kalimat sederhana: "Jangan ungkapkan  Anda yang sebenarnya." Pernyataan ini semakin memperdalam rasa penasaran Lexa, karena ia merasakan ada rahasia yang tersembunyi di balik anonimitas Evos.
   Lexa memutuskan untuk mendekati Evos secara langsung. Dia mengirim pesan kepada musisi tersebut, menawarkan untuk memproduksi musiknya dan membantunya mencapai kesuksesan. Evos menyetujuinya, namun dengan satu syarat: Lexa harus menemuinya di lokasi terpencil, tepatnya di taman yang sepi di tengah kota.
  Lexa, didorong oleh rasa penasarannya. Di tengah malam, dia bertemu Evos yang sedang duduk di bangku taman. Evos memakai topi dan kacamata hitam, dengan wajah tertutup bayangan. Lexa berusaha melihat sekilas wajah untuk mengungkap identitasnya. Namun, Evos hanya tersenyum penuh teka-teki dan berkata, "Jangan ungkapkan identitas aslimu."
  'Lexa terkejut'. Dia menyadari bahwa Evos memang benar. Esensi sebuah rahasia tidak terletak pada identitas, melainkan pada apa yang kita ungkapkan melalui ciptaan kita. Evos, dengan menggunakan anonimitas, telah menciptakan dunia yang kaya makna, penuh dengan melodi dan lirik yang menyampaikan pesan lebih kuat dari sekedar kata-kata.
    Lexa meninggalkan taman tersebut dengan rasa kagum yang mendalam. Ia menyadari bahwa Evos telah memberikan pelajaran yang sangat berharga: musik seharusnya menjadi sarana untuk mengekspresikan diri, bukan untuk menunjukkan identitas.
    Dan Evos, sang musisi yang penuh teka-teki, tetap memproduksi musik sambil menyembunyikan identitasnya di balik tabir anonimitas, sehingga karya-karyanya dapat menyampaikan esensinya.

Postingan populer dari blog ini

The Burdhen Of Pleasing: When Emphaty Turns Into Self-Neglect